Selasa, 20 Desember 2011

MAKALAH MOTIVASI KERJA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran
Menurut Kamus Praktis Bahasa Indonesia, motif adalah corak, pola; alasan seseorang melakukan sesuatu. Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah dorongan atau kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan dengan tujuan tertentu; usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. Dengan demikian motivasi kerja dapat diartikan sebagai keinginan atau kebutuhan yang melatarbelakangi seseorang sehingga ia terdorong untuk bekerja.
Kekuatan motivasi seseorang untuk bekerja atau berprestasi tercermin secara langsung dalam upaya seberapa jauh ia mau bekerja keras. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi kerja tampak sebagai kebutuhan pokok manusia. Masing-masing bekerja menurut aturan atau ukuran yang telah ditetapkan, dengan saling menghormati, saling membutuhkan serta saling menghargai.

B. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini, kami akan merumuskan masalah-masalah yang akan diurai dalam bab berikutnya. Sebab dengan adanya rumusan masalah ini ditujukan agar tidak terjadi pembahasan yang terlalu menyimpang, rumusan masalah itu adalah :
A. Bagaimana pengertian motivasi kerja ?
B. Bagaimana faktor-faktor motivasi kerja ?
C. Bagaimana meningkatkan motivasi kerja ?

C. Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menambah pengetahuan akan motivasi kerja. Tujuan yang jelas adalah supaya mengenal atau mengetahui pengertian motivasi, faktor-faktor motivasi, dan meningkatkan motivasi keja.

D. Fungsi
Makalah ini agar di fungsikan oleh siapa saja yang membutuhkan dan untuk menambah koleksi perpus pribadi kami serta nantinya bisa jadi bahan referensi bagi kami.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Motivasi Kerja
Motivasi kerja menurut beberapa ahli Motif diartikan sebagai daya penggerak yang mendorong seseorang melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Motif yang sudah aktif disebut motivasi. Motivasi merupakan proses yang tidak dapat diamati, tetapi bisa ditafsirkan melalui tindakan individu yang bertingkah laku, sehingga motivasi merupakan konstruksi jiwa. 
Kedudukan motivasi sejajar dengan isi jiwa sebagai cipta (kognisi), karsa (konasi), dan rasa (emosi) yang merupakan tridaya. Apabila cipta, karsa dan rasa yang melekat pada diri seseorang, dikombinasikan terhadap motivasi, dapat menjadi catur daya atau empat dorongan kekuatan yang dapat mengarahkan individu mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan.

B.       Teori Teori Motivasi Kerja
Secara psikologis, aspek yang paling penting dalam kepemimpinan kerja adalah sejauh mana pimpinan mampu mempengaruhi motivasi kerja SDM nya agar mereka mampu bekerja produktif dengan penuh tanggung jawab. Hal ini karena beberapa alasan, antara lain:
  1. Karyawan harus di dorong untuk bekerja sama dengan organisasi
  2. Karyawan harus senantiasa di dorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan kerja.
  3. Motivasi karyawan merupakan aspek yang sangat penting dalam memelihara dan mengembangkan SDM dalam organisasi.
Teori motivasi di pahami agar peminpin mampu mengedintifikasi apa motivasi karyawan bekerja, hubungan prilaku kerja dengan motivasi dan mengapa karyawan berprestasi tinggi. Teori motivasi dapat di kategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu:
  1. Teori motivasi dengan pendekatan isi
  2. Teori motivasi pendekatan dengan pendekatan proses
  3. Teori motivasi dengan pendekatan penguat

Teori motivasi dengan pendekatan isi lebih banyak menekankan pada faktor apa yang membuat karyawan melakukan suatu tindakan tertentu. Teori motivasi dengan pendekatan proses tidak hanya menekankan pada faktor apa yang membuat karyawan bertindak, tetapi juga bagaimana karyawan tersebut termotivasi. Sedangkan teori motivasi dengan pendekatan penguat lebih menekankan pada faktor-faktor yang meningkatkan sesutu tindakan di lakukan atau yang dapat mengurangi suatu tindakan. Contohnya teori motivasi dari skinner (operant konditoning)

b.1. Teori teori kebutuhan tentang motivasi
a.       Maslow’s neet hierarchy theory
Kebutuhan dapat didefinesikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang di alami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada pada dalam diri. Apabila pegawai, kebutuhannya tidak terpenuhi maka pegawai tersebut akan menunjukan prilaku kecewa. Sebaliknya, Jika kebutuhan terpenuhi maka pegawai akan memperhatikan prilaku yang gembira sebagai manifestsi rasa puasnya.
Abraham maslow mengemukakan bahwa hirarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut:
  • Kebutuhan fisikologis, yaitu kebutuhan untuk makan dan minum, perlindungan fisik, bernafas, seksual.
  • Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan linkungan hidup.
  • Kebutuhan untuk rasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk di terima oleh kelompok, berafiliasi, berintekrasi, dan kebutuhan mencintai dan di cintai.
  • Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan akan di hormati dan di hargai orang lain.
  • Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi.

b.      Herzberg two factor theory
Teori dua faktori ini di kembangkan oleh Frederick Herzberg. Ia menggunakan teori Abraham maslow sebagai titik acuannya. Penelitian Herzberg diadakan dengan melakukan wawancara terhadap subyek insiyur dan akuntan. Masing-masing subyek diminta menceritakan kejadian yang di alami oleh mereka baik yang menyenangkan (memberi kepuasan) maupun yang tidak menyengkan atau tidak memberi kepuasan. Kemudian hasil wawancara tersebut di analisis dengan analisis isi untuk menentukan faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan atau tidak kepuasan.
            Dua faktor yang menyebabkan timbulnya rasa puas dan tidak puas menurut Herzberg, yaitu faktor pemeliharaan, dan faktor pemutifasian.
c.       Achievement theory
       Prof. Dr. David C Mc.Clelland, seorang ahli psikologi asal amerika dari universitas Harvard, dalam teori motivasinya mengatakan bahwa produktifitas seseorang sangat di tentukan oleh virus mental yang ada pada dirinya. Virus mental adalah kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mampu mencapai prestasinya secara maksimal. Virus mental yang dimaksud terdiri dari tiga dorongan kebutuhan :
1.      Kebutuhan untuk berprestasi
2.      Kebutuhan untuk memperluas pergaulan
3.      Kebutuhan untuk menguasai sesuatu
Berdasarkan teori Mc. Clelland berarti sangat perlu dibina virus mental dengan cara mengembangkan potensi mereka melalui lingkungan kerja secara efektif agar terwujud produktifitas perusahaan yang berkualitas tinggi dan tercapainya tujuan utama organisasi.

b.2. Teori Motivasi Proses
a. Teori Pengukuhan
Teori ini mempunyai dua aturan pokok, yaitu aturan pokok yang berhungan pemerolehan jawaban-jawaban benar, dan aturan pokok lainnya yang berhubungan perhitungan jawaban-jawaban yang salah. Pemerolehan dari satu prilaku menuntut adanya pengukuran-pengukuran sebelumnya untuk memproleh jawaban-jawaban yang di maksud

b. Teori Penetapan Tujuan
Teori penetapan tujuan ini merupakan teori motivasi dengan pendekatan kognitif yang di kembangkan oleh Edwin Locke. Ia berkesimpulan bahwa penetapan suatu tujuan tidak hanya berpengaruh pada pekerjaan saja, tetapi juga merangsang karyawan untuk mencari atau menggunakan metode kerja yang paling efektif. Begitu pula Edwin Locke berpendapan bahwa melibatkan karyawan dalam menetapkan tujuan dapat menumbuhkan motivasi  kerja dan pencapaian prestasi kerja maksimal.
Dengan demikian, penetapan tujuan merupakan setrategi pemotivasian yang krusial dalam upaya para karyawan bekerja produktif dan sekaligus memotivasi mereka untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan.

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat ketekunan dan antusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi internal) maupun dari luar individu (motivasi eksternal). Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan tentang pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi atau dorongan bagi seseorang untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain atau organisasi. Seberapa kuat motivasi yang dimiliki seseorang akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.
Seperti yang telah dikemukakan, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Yang termasuk dalam faktor internal adalah
1.      Persepsi seseorang mengenai diri sendiri;
2.      Harga diri;
3.      Harapan pribadi;
4.      Kebutuhan;
5.      Keinginan;
6.      Kepuasan kerja; dan
7.      Prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain:
1.      Jenis dan sifat pekerjaan;
2.      Kelompok kerja dimana seseorang bergabung;
3.      Organisasi tempat bekerja;
4.      Situasi lingkungan pada umumnya; dan
5.      Sistem imbalan yang berlaku serta cara penerapannya.
Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang atau motif mempunyai dua unsur, yaitu berupa daya dorong untuk berbuat dan sasaran atau tujuan yang akan diarahkan oleh perbuatan itu. Dua unsur inilah yang membuat seseorang mau melakukan kegiatan dan sekaligus mencapai apa yang dikehendaki melalui kegiatan tersebut. Dan kedua unsur tersebut tidak dapat dipisahkan, karena bila salah satu unsur tidak ada maka tidak akan timbul suatu kegiatan.
Sumber dari motivasi kerja diantaranya adalah adanya kesempatan untuk berkembang, jenis pekerjaan yang dilakukan, serta adanya perasaan bangga menjadi bagian dari organisasi dimana seseorang tersebut bekerja. Di samping itu, motivasi kerja juga dipengaruhi oleh perasaan aman dalam bekerja, gaji yang adil dan kompetitif, lingkungan kerja yang menyenangkan, penghargaan atas prestasi kerja, serta perlakuan yang adil dari pimpinan.
Dalam suatu organisasi formal, motivasi merupakan tugas seorang pimpinan untuk membuat karyawan melakukan apa yang harus dilakukan. Pimpinan dapat memotivasi karyawan dengan berbagai cara, diantaranya:
1.      Menginspirasi, yaitu dengan memasukkan semangat ke dalam diri orang agar bersedia melakukan sesuatu dengan efektif. Orang diinspirasi melalui kepribadian pimpinan, keteladanannya, dan pekerjaan yang dilakukannya secara sadar atau tidak sadar.
2.      Mendorong, yaitu dengan merangsang orang untuk melakukan apa saja yang harus dilakukan melalui pujian, persetujuan dan bantuan.
3.      Mendesak, yaitu membuat orang merasa harus melakukan apa yang harus dilakukan dengan sesuatu cara, termasuk paksaan, kekerasan dan ancaman jika perlu. Namun, motivasi jenis ini sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman dan bersifat negatif karena karyawan bekerja disebabkan adanya paksaan tanpa ada motif dari dirinya sendiri.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan oleh pimpinan dalam menumbuhkan motivasi, untuk meningkatkan semangat kerja karyawan, diantaranya:
1.      Memberikan kepada karyawan keterangan yang mereka perlukan untuk melakukan sesuatu pekerjaan dengan baik;
2.      Membuat saluran komunikasi yang mudah dipergunakan, sehingga karyawan dapat menggunakannya untuk mengutarakan pertanyaan atau kehawatiran mereka dan memperoleh jawaban;
3.      Memberi selamat secara pribadi kepada karyawan yang melakukan pekerjaan dengan baik;
4.      Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pribadi karyawan karena karyawan akan lebih terdorong untuk bekerja bagi perusahaan yang memperhatikan keperluan pribadinya;
5.      Menulis memo secara pribadi kepada karyawan tentang hasil kinerja mereka;
6.      Memastikan apakah karyawan mempunyai sarana kerja yang terbaik;
7.      Memberi karyawan satu pekerjaan yang baik untuk dikerjakan dan pimpinan harus memperlihatkan kepada karyawan bagaimana mereka dapat berkembang dan memberi kesempatan untuk mempelajari kemampuan-kemampuan baru;
8.      Membantu berkembangnya rasa “bermasyarakat” sehingga karyawan akan merasa betah di dalamnya;
9.      Menawarkan “pembagian keuntungan” (profit sharing) kepada karyawan.









BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
ü  Adanya rasa kebersamaan dan keterbukaan. Hal ini ditandai dengan adanya sikap saling menghormati, saling menghargai, serta adanya jalinan komunikasi yang harmonis antara pimpinan dengan bawahannya atau antar sesamanya. Tanpa rasa kebersamaan dan keterbukaan dari semua pihak, maka akan timbul asumsi yang kurang baik, yang pada akhirnya akan berdampak pada kinerja yang dihasilkan. Oleh karenanya rasa kebersamaan dan keterbukaan ini perlu sekali dipertahankan agar kita tercipta rasa nyaman dalam bekerja.
ü  Bekerja dengan tekun, semangat dan tidak cepat berputus asa. Teruslah berusaha dan berdo’a, insyaallah tercapai apa yang dicita-citakan.

B. Saran
Makalah ini jauh dari kesempurnaan sebab kami meyakini hal itu jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya tak ada salahnya apabilah kritikan konstruktif terhadap hasil karja keras kami.
Dan tak lupa bahwa mengkritiklah dengan benar, karena kebenaran selalu benar di mata TUHAN














DAFTAR PUSTAKA

ü  R. Wayne Pace, Don F. Faulos, 2002, Komunikasi Organisasi: Strategi meningkatkan kinerja perusahaan (editor Deddy Mulyana, MA, Ph.D.), PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
ü  Deborah Tannen, 1996, Seni komunikasi Efektif: membangun relasi dengan membina gaya percakapan, (alih bahasa dra. Amitya Komara), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
ü  Anderson, R.C.1959. Learming in discussions. ”A Resume of the Authoritarian-Demoraic Studies.” harvard educationalnrevew,29,201-215.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar